Reviews Geekom GeekBook M16: Core Ultra 9 Terbelenggu oleh Layar & SSD Murah
Pengantar: Geekom GeekBook M16 Hadir sebagai Alternatif Budget 16-Inci
Geekom GeekBook M16 masuk pasar sebagai saudara besar berbudget dari X14 Pro yang kami uji awal tahun ini. Harganya kira-kira 200 dolar lebih murah, sekitar di bawah 15 juta rupiah, namun tetap memakai prosesor Intel Core Ultra 9 185H 16-core yang sama. Di kertas, ini terlihat seperti kompromi terhitung bagi yang menginginkan kekuatan CPU puncak dengan dompet lebih tipis. Pertanyaannya: apakah penghematan biaya ini menghasilkan mesin yang seimbang, atau justru M16 dikepung oleh spek-spek pendukungnya sendiri?
Kami menguji unit yang dikirim Geekom selama beberapa minggu, menjalankan beban kerja harian, gaming ringan, dan benchmark sintetis. Hasilnya mengejutkan: laptop ini punya potensi performa raksasa yang terkunci di balik thermal paste pabrik yang mengecewakan, sementara layar dan storage-nya terasa seperti sisa-sisa generasi lalu. Ini bukan laptop buruk, tapi laptop yang membuat Anda bertanya-tanya keputusan produk di baliknya.
Desain dan Bangunan: Chasis Aluminium dengan Perbaikan Speaker
Chasis aluminium 16 inci terasa kokoh dan premium di tangan, dengan fleks minimal pada keyboard Tech dan tutup layar. Beratnya masuk akal untuk kelas 16 inci, cukup portabel untuk dibawa ke kantor atau kafe. Geekom memperbaiki salah satu keluhan X14 Pro dengan mengganti desain grille speaker bawah, menghilangkan getaran chasis yang mengganggu saat volume maksimal. Suaranya sekarang lebih bersih, meski bass tetap tipis seperti kebanyakan laptop tipis.
Port selection standar: dua USB-C (satu Thunderbolt 4, satu USB 3.2), dua USB-A 3.2, HDMI 2.1, jack audio 3,5mm, dan slot microSD. Tidak ada port Ethernet atau USB-A 2.0 lama, keputusan yang masuk akal untuk ketebalan chasis ini. Kipas bergetar sedikit saat idle, tapi tidak bising di ruangan tenang. Kualitas build secara keseluruhan solid untuk harga ini, tidak terasa plastik atau murahan.
Layar: Panel IPS 60Hz yang Mengecewakan
Ini titik lemah paling terasa. Layar 16 inci IPS 1920×1200 60Hz hanya mencapai 318 nit kecerahan puncak — terlalu redup untuk outdoor atau dekat jendela siang hari. Warna terlihat biru dan washed-out, dengan Delta E rata-rata 14, jauh dari standar pekerjaan warna profesional. Tidak ada VRR (Variable Refresh Rate), sehingga screen tearing muncul jelas saat gaming atau scrolling cepat. Untuk konsumsi media kasual cukup, tapi editor foto/video akan kecewa.
Kontras 1000:1 standar IPS, hitam terlihat abu-abu di ruangan gelap. Viewing angle baik, tidak ada shift warna drastis dari samping. Pembandingnya, X14 Pro, memakai OLED 90Hz dengan akurasi warna jauh superior. Penghematan 200 dolar di sini terasa terlalu agresif; panel IPS 120Hz atau minimal 400 nit seharusnya jadi minimum di 2024. Jika Anda mayoritas indoor dan tidak sensitif warna, layar ini “cukup”, tapi jangan harap lebih.
Performa: Core Ultra 9 185H Terbelenggu oleh Thermal Paste Buruk
Intel Core Ultra 9 185H (16 core, 22 thread, batas 45W) adalah bintang di spek sheet, tapi performa out-of-the-box mengecewakan. Di Cinebench 2024 multi-core, M16 skor 1.050 poin — hanya sedikit lebih cepat dari X14 Pro yang cuma 35W. Suhu CPU melonjak ke 98°C dalam beban berkelanjutan, kipas berputar keras tapi tidak efektif menurunkan temperatur. Setelah kami buka chasis dan ganti thermal paste ke Arctic MX-6, skor melonjak 29,7% ke 1.362 poin, suhu turun 15°C. Perbedaan raksasa dari kerja pabrik yang ceroboh.
Single-core performance solid, sekitar 125 poin Cinebench 2024, setara laptop premium lain. NPU Intel AI Boost hadir untuk workload AI lokal, tapi software ecosystem masih minim. Untuk kompilasi kode, rendering 3D ringan, dan multitasking berat, M16 setelah repasting benar-benar cepat. Masalahnya: mayoritas pengguna tidak akan, dan tidak seharusnya, buka laptop baru untuk repasting. Ini cacat desain, bukan fitur.
RAM dan Storage: 16GB LPDDR5 Terlepas dan SSD QLC Lambat
Memori 16GB LPDDR5-6400MHz terlepas (soldered) — tidak bisa upgrade. Untuk 2024, 16GB sudah batas bawah untuk laptop kelas Ultra 9; browser modern dengan puluhan tab + IDE + container Docker akan cepat memaksa sistem ke page file. Kami melihat usage page file konstan 8-12GB saat beban normal, yang berarti SSD dibaca/ditulis terus-menerus. Inilah mengapa kesehatan SSD Kingston QLC 512GB (tanpa DRAM cache) degradasi cepat dalam ujian kami: TBW (Terabytes Written) terpakai berlebihan untuk kompensasi RAM minim.
SSD ini lambat secara nyata. Sequential read/write ~3.500/2.000 MB/s di benchmark, tapi real-world: unduhan Steam di koneksi Gigabit terjebak di 300-400 MB/s, dibatasi write speed QLC saat cache SLC penuh. Loading game dan boot Windows terasa lebih lambat dari laptop seharga sama dengan SSD TLC bergaya DRAM. Geekom seharusnya mengorbankan 8GB RAM (masih 16GB total) untuk SSD 1TB TLC yang lebih sehat. Keputusan ini membuat laptop terasa “budget” di tempat yang paling terasa sehari-hari.
Baterai dan Pengisian: Daya Tahan Solide dengan Charger 100W
Baterai 99,99Wh (hampir batas maksimal FAA untuk kabin pesawat) adalah highlight. Dalam tes loop video 4K 150 nit, M16 bertahan 8 jam 12 menit — sangat baik untuk kelas 16 inci performa tinggi. Penggunaan campur (browser, Office, video call) realistis 6-7 jam. Charger 100W USB-C GaN sudah termasuk di kotak, kecil dan ringkas, charge 0-80% sekitar 55 menit. Dukungan Power Delivery 3.0 berarti power bank USB-C pun bisa nge-charge, meski lebih lambat.
Tidak ada fast-charge proprietary; USB-C PD standar adalah keuntungan. Kipas charger tidak berisik. Manajemen daya Windows default agak agresif menurunkan clock saat unplugged; mode “Best Performance” di plugged-in tetap konsisten. Untuk mobile worker yang butuh daya tahan penuh hari tanpa adaptor berat, M16 mengirimkan janjinya di sini.
Keyboard dan Trackpad: Layout Mengganggu dan Trackpad Lompat
Keyboard chiclet layout standar, travel 1,3mm, feedback tactile tapi sedikit “mushy” di ujung. Masalah terbesar: tombol Airplane Mode (F7) diletakkan tepat di sisi tombol Backspace. Terlalu sering kami tekan salah saat mengetik cepat, mematikan Wi-Fi/Bluetooth tiba-tiba. Tidak ada cara remap di BIOS; harus pakai software pihak ketiga. Backlight putih 2-level cukup terang, tapi tidak per-key RGB. Numpad full-size sempit tapi fungsi.
Trackpad Precision Drivers 120 x 80 mm terasa licin, tapi tracking inconsistent — kursor kadang lompat atau “stutter” saat gerakan halus, terutama di tepi. Klik fisik keras dan berisik. Gesture multi-jari (3-4 jari) kadang tidak terdeteksi. Ini terasa seperti trackpad generasi lalu, tidak setara laptop 10 jutaan kelas atas. Mouse eksternal wajib untuk produktivitas serius.
Gaming dan Termal: Throttling dan Screen Tearing
Grafis Intel Arc Xe (8 core) di Ultra 9 185H cukup untuk gaming ringan 1080p low-medium: CS2 ~85 FPS, Valorant ~180 FPS, Cyberpunk 2077 ~35 FPS (FSR Quality). Tanpa VRR, tearing parah di FPS tinggi; VSync on menambah input lag. Thermal throttle muncul setelah 15 menit sesi berat: clock GPU turun 30%, FPS drop 20-25%. Repasting CPU membantu thermal headroom, tapi GPU tetap panas karena shared heatpipe design.
Fan noise di mode Performance: 48 dB(A) dari 30 cm — terdengar di ruangan sunyi. Mode Balanced lebih tenang (42 dB) tapi clock CPU turun 15%. Untuk gaming kasual sesi pendek (<30 menit) cukup, tapi bukan laptop gaming. Jika gaming prioritas, cari laptop dGPU (RTX 4050 minimal) di budget sama; banyak opsi bekas/refurbished yang lebih masuk akal.
Kesimpulan: Laptop Tidak Seimbang yang Sulit Direkomendasikan
Geekom GeekBook M16 adalah studi kasus kompromi yang salah arah. Prosesor flagship Intel Core Ultra 9 185H dipasangkan dengan layar IPS redup 60Hz, SSD QLC lambat yang degradasi cepat, RAM 16GB terlepas yang memaksa page file konstan, dan thermal paste pabrik yang menyembunyikan 30% performa. Baterai besar dan charger 100W jadi satu-satunya keunggulan jelas tanpa syarat. Untuk editor video, gamer, atau pengguna umum yang ingin laptop “buka dan pakai”, M16 mengecewakan di terlalu banyak aspek.
Jika Anda enthusiast yang tidak keberatan buka laptop baru untuk repasting, dan butuh CPU multi-core maksimal untuk rendering/kompilasi dengan budget ketat, M16 bisa jadi value tersembunyi setelah modifikasi. Tapi untuk 95% pembeli, laptop dengan CPU lebih rendah (Ultra 7 atau Ryzen 7 8840HS) tapi layar OLED 120Hz, SSD TLC 1TB, dan 32GB RAM akan memberikan pengalaman sehari-hari yang jauh lebih baik. Geekom perlu belajar: keseimbangan spek lebih penting dari angka headline processor.