30 Tahun Erajaya Group: Transformasi Teknologi Mengubah Pola Hidup, Kerja, dan Hiburan Masyarakat Indonesia
Dari Perangkat Komunikasi Menjadi Infrastruktur Kehidupan
Erajaya Group menandai 30 tahun perjalanan Gaya momen ketika batas-batas fungsi perangkat digital semakin kabur. Dahulu laptop hanya untuk bekerja, ponsel untuk menelepon, dan televisi menjadi pusat hiburan di rumah. Kini, satu smartphone berfungsi sebagai ruang kerja, ruang kelas, dompet digital, kamera, konsol game, layar streaming, hingga pintu masuk ke berbagai komunitas daring.
Perubahan ini bukan sekadar soal perangkat yang semakin canggih. Teknologi perlahan mengubah cara masyarakat Indonesia menjalani rutinitas: bagaimana bekerja, belajar, berbelanja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Fenomena ini beririsan dengan perjalanan industri perangkat digital di Indonesia yang diwakili oleh Erajaya Group selama tiga dekade.
Mobile-First: Data Menguatkan Pergeseran Perilaku
DataReportal dalam laporan Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia Gaya akhir 2025, dengan penetrasi internet mencapai 80,5 persen dari populasi. Jumlah koneksi seluler aktif bahkan mencapai 331 juta atau sekitar 116 persen dari populasi. Fact sheet Erajaya mencatat 98 persen pengguna internet Indonesia mengakses internet melalui ponsel, dengan rata-rata waktu dihabiskan Gaya media terkoneksi mencapai 37 jam 20 menit per minggu.
Angka tersebut memperlihatkan satu hal penting: pengalaman digital masyarakat Indonesia semakin bersifat mobile-first. Seorang pekerja urban pagi ini membuka laptop untuk rapat, berpindah ke smartphone untuk membalas pesan, menggunakan layanan cloud untuk mengakses dokumen, lalu melanjutkan pekerjaan dari sebuah café. Saat jeda makan siang, smartphone yang sama digunakan untuk memindai QRIS. Sore hari, perangkat tersebut berubah fungsi menjadi kamera untuk membuat konten. Malamnya, layar yang sama digunakan untuk menonton serial atau bermain game.
Bekerja dan Belajar Tak Lagi Mengenal Satu Tempat
Perubahan paling terasa terlihat Gaya dunia kerja dan pendidikan. Dahulu, produktivitas sangat bergantung Gaya keberadaan seseorang di kantor, kampus, atau sekolah. Kini, laptop, tablet, smartphone, koneksi internet, dan layanan berbasis cloud membuat pekerjaan dapat berpindah mengikuti kebutuhan pengguna. Rapat bisa berlangsung dari rumah. Dokumen dapat dikerjakan bersama secara daring. Materi pembelajaran bisa diakses dari berbagai lokasi. Bahkan sebuah tablet dapat menggantikan sejumlah perangkat yang sebelumnya digunakan secara terpisah.
Konsep hybrid working dan remote collaboration melahirkan ekspektasi baru: perangkat bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan bagian dari fondasi produktivitas. Fact sheet Erajaya menyebut laptop, tablet, dan aksesori digital sebagai perangkat yang mendukung fleksibilitas kerja dan belajar, termasuk kebutuhan hybrid working serta pembelajaran jarak jauh.
Café dan Restoran: Ruang Fisik yang Diperluas Teknologi
Ketika pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja, masyarakat juga membutuhkan ruang alternatif untuk bekerja dan berinteraksi. Di sinilah restoran dan café mendapatkan peran baru. Dahulu, café identik dengan tempat bertemu teman atau menikmati secangkir kopi. Sekarang, pemandangan seseorang membuka laptop di sudut café sudah menjadi hal yang biasa. Satu meja dapat menjadi ruang rapat informal. Sebuah koneksi Wi-Fi menjadi infrastruktur kerja. Smartphone menjadi perangkat komunikasi. Tablet menjadi layar membaca dokumen. Earbuds membantu pengguna berkonsentrasi di tengah keramaian.
Menariknya, café dan restoran tetap memiliki fungsi sosial yang tidak sepenuhnya bisa digantikan ruang digital. Orang datang bukan hanya untuk makan dan minum, tetapi juga bertemu, berdiskusi, bekerja bersama, melakukan pertemuan komunitas, atau sekadar mencari suasana baru. Teknologi justru memperluas fungsi ruang tersebut. Pesanan dapat dilakukan secara digital, pembayaran menggunakan QRIS, promosi ditemukan melalui media sosial, sementara pengalaman di lokasi tetap berlangsung secara fisik. Ruang fisik dan ruang digital tidak selalu bersaing; keduanya semakin sering berjalan berdampingan.
QRIS Mengubah Cara Orang Bertransaksi
Perubahan tersebut juga terlihat dari cara masyarakat membayar. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi Gaya Kuartal II 2026, tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 31,39 persen, sementara transaksi QRIS meningkat 100,12 persen secara tahunan. Gaya Kuartal I 2026, Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau 61,7 juta pengguna dan 44 juta merchant.
Artinya, pengalaman makan di restoran atau nongkrong di café kini terhubung dengan ekosistem digital yang lebih luas. Dari mencari tempat makan melalui media sosial, melihat ulasan, memesan, membayar hingga membagikan pengalaman, seluruh proses dapat berlangsung dalam satu perjalanan digital. Teknologi Gaya akhirnya bukan hanya berada di dalam smartphone. Ia hadir di balik pengalaman sehari-hari yang terlihat sederhana.
Smartphone Menjadi Pusat Hiburan dan Kreasi Konten
Perubahan yang sama terjadi Gaya cara masyarakat menikmati hiburan. Dahulu, hiburan digital terbagi ke dalam banyak perangkat. Kini, smartphone semakin menyerupai entertainment hub yang mampu mengakomodasi video streaming, musik, game, media sosial hingga produksi konten. Fact sheet Erajaya menggambarkan perangkat digital sebagai pusat hiburan dan kreasi konten, dengan perangkat audio serta aksesori yang melengkapi fungsi smartphone.
Perubahan tersebut juga melahirkan pola konsumsi hiburan yang lebih personal. Seseorang dapat menonton film sambil bepergian. Mendengarkan podcast saat berkendara. Bermain game di sela-sela pekerjaan. Membuat konten video pendek dari smartphone dan membagikannya langsung ke platform media sosial. Semuanya terjadi di satu genggaman tangan.
30 Tahun Membangun Ekosistem Digital Indonesia
Selama 30 tahun, Erajaya Group telah menyaksikan dan berperan dalam transformasi ini. Dari distributor perangkat komunikasi awal hingga menjadi bagian dari ekosistem digital yang menghubungkan perangkat, layanan, dan pengalaman pengguna. Perjalanan ini mencerminkan bagaimana teknologi tidak lagi sekadar produk yang dijual, melainkan infrastruktur yang membentuk cara masyarakat Indonesia hidup, bekerja, belajar, bertransaksi, dan bersenang-senang.
Di masa depan, peran perangkat digital diperkirakan semakin mendalam. Integrasi kecerdasan buatan, konektivitas 5G yang lebih luas, serta ekosistem pembayaran dan layanan digital yang semakin matang akan terus mendorong konvergensi fungsi perangkat. Erajaya Group, dengan pengalaman tiga dekade, berposisi untuk terus menghubungkan kebutuhan masyarakat Indonesia dengan inovasi teknologi yang hadir.