Gear

Rabbit Kembali Hadir dengan Aplikasi AI Agent, Tinggalkan Perangkat Keras R1

πŸ“… 23 Sep 2026 ✍️ oguricapp πŸ• 5 menit baca
AdSense Atas Artikel β€” slot iklan (tambahkan GIDR_ADSENSE_CLIENT di wp-config.php)

Dari Perangkat Keras ke Perangkat Lunak: Pergeseran Strategi Rabbit

Rabbit, startup yang pernah menjanjikan revolusi dengan perangkat AI berukuran saku R1, kini mengubah arah. Perusahaan yang dipimpin Jesse Lyu meluncurkan aplikasi Rabbit AI Agent yang berjalan langsung di smartphone Android dan iOS. Langkah ini datang setelah R1 dikritik karena fungsionalitas terbatas, bug berulang, dan ketergantungan pada koneksi cloud yang membuat perangkat tersebut hampir tidak berguna saat offline.

Apa Itu Rabbit AI Agent?

Rabbit AI Agent adalah aplikasi yang memungkinkan pengguna memberikan perintah bahasa alami untuk menyelesaikan tugas-tugas lintas aplikasi. Berbeda dengan asisten suara konvensional yang hanya menjawab pertanyaan atau mengontrol fungsi sistem dasar, AI agent ini dirancang untuk “bertindak” atas nama pengguna: memesan tiket, mengisi formulir, membandingkan harga, mengirim email, hingga mengelola jadwal kalender.

Teknologi di baliknya adalah Large Action Model (LAM) β€” model yang dilatih Rabbit untuk memahami antarmuka pengguna (UI) dan mengeksekusi langkah-langkah seperti manusia: mengetuk tombol, mengetik News, menggulir halaman, dan berpindah antar aplikasi. LAM tidak hanya memproses News, tapi belajar pola interaksi visual dan logika alur kerja di layar.

Mengapa Rabbit Meninggalkan Perangkat Khusus?

R1 diluncurkan Maret 2024 dengan harga $199. Konsepnya menarik: sebuah kotak oranye kecil dengan kamera putar, scroll wheel, dan tombol push-to-talk yang dijual sebagai “universal controller” untuk kehidupan digital. Realitanya berbeda. Ulasan awal (termasuk dari WIRED, The Verge, dan Marques Brownlee) menyinggung:

  • Keterlambatan respons 10–30 detik per perintah karena semua pemrosesan di cloud.
  • Hanya mendukung sedikit aplikasi (Spotify, Uber, DoorDash, Midjourney) saat peluncuran.
  • Tidak ada mode offline β€” perangkat menjadi Back bata tanpa internet.
  • Fungsi dasar seperti alarm, Time, atau catatan suara tidak tersedia.
  • Kamera putar sering error dan kualitas foto rendah.

Penjualan R1 melambat setelah gelombang pertama. Menurut laporan industri, Rabbit hanya menjual sekitar 100.000 unit dalam enam bulan pertama β€” jauh di bawah target internal. Biaya produksi perangkat keras, logistik, dan dukungan purna jual membebani arus kas startup yang modalnya terbatas.

Keuntungan Pendekatan Aplikasi

Dengan beralih ke aplikasi smartphone, Rabbit mengeliminasi hambatan utama:

  • Jangkauan instan: Miliaran smartphone sudah ada di tangan pengguna. Tidak perlu membeli perangkat baru.
  • Pemrosesan lokal berbantu cloud: Smartphone modern (Snapdragon 8 Gen 3, A17 Pro, Tensor G4) mampu menjalankan model bahasa kecil secara lokal untuk tugas ringan, mengurangi latensi.
  • Integrasi OS: Android 14 dan iOS 18 menyediakan API aksesibilitas dan App Intents yang memungkinkan aplikasi mengontrol aplikasi lain dengan izin pengguna.
  • Iterasi cepat: Update lewat Play Store dan App Store menghapus siklus produksi perangkat keras 12–18 bulan.

Fitur Utama Rabbit AI Agent (Versi Awal)

Berdasarkan demo dan beta tertutup, aplikasi menawarkan:

  • Cross-app workflow: “Pesan makan siang untuk tim saya di GoFood, kirim link pembayaran ke grup WhatsApp ‘Proyek Alpha’, dan tambahkan ke kalender jam 12:30.” Satu perintah, eksekusi multi-aplikasi.
  • Mode belajar (Teach Mode): Pengguna merekam alur kerja manual sekali (mis. mengisi laporan bulanan di sistem HRD internal), lalu agent meniru langkahnya untuk tugas berulang.
  • Konteks layar: Dengan izin aksesibilitas, agent “melihat” apa yang ada di layar β€” tombol, formulir, News β€” dan memutuskan tindakan selanjutnya.
  • Profil pribadi terenkripsi: Kredensial login, preferensi makanan, alamat, dan metode bayar disimpan lokal di perangkat (Secure Enclave / StrongBox), tidak di server Rabbit.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski konsepnya menjanjikan, beberapa hambatan teknis dan kepercayaan tetap ada:

  • Izin aksesibilitas: Android dan iOS membatasi aplikasi pihak ketiga mengontrol aplikasi lain. Pengguna harus mengaktifkan izin manual di Settings β€” langkah yang tidak intuitif bagi pengguna awam.
  • Keamanan data: Memberikan akses penuh ke layar dan input berarti aplikasi bisa “melihat” kata sandi, OTP, dan percakapan pribadi. Rabbit mengklaim arsitektur zero-knowledge, tapi audit independen belum dipublikasikan.
  • Keandalan eksekusi: Perubahan UI aplikasi target (update GoFood, WhatsApp, Gmail) bisa mematahkan alur kerja agent. Rabbit butuh tim yang cepat memperbaiki selector dan logika saat aplikasi target berubah.
  • Kompetisi: Google Gemini Live, Apple Intelligence (App Intents + Siri), Microsoft Copilot, dan startup seperti Adept / MultiOn mengejar ruang yang sama.

Pelajaran untuk Industri AI Hardware

Kasus Rabbit mengulang pola Humane Ai Pin: perangkat keras AI khusus sulit bersaing dengan smartphone yang sudah serbaguna, terhubung, dan memiliki ekosistem pengembang matang. Biaya BOM (Bill of Materials), sertifikasi regulasi, logistik global, dan dukungan purna jual membuat margin tipis bagi startup. Sementara itu, distribusi perangkat lunak hampir nol biaya marginal.

Rabbit tidak sepenuhnya meninggalkan perangkat keras β€” mereka menyatakan R1 tetap mendapat update keamanan dan fitur dasar. Namun fokus investasi R&D bergeser 80% ke lapisan perangkat lunak dan model LAM.

Cara Mencoba Rabbit AI Agent Hare Ini

  1. Daftar waitlist di situs resmi rabbit.tech/agent (tersedia untuk pengguna Indonesia).
  2. Unduh aplikasi dari Play Store atau App Store setelah mendapat undangan.
  3. Aktifkan izin Aksesibilitas (Android) / App Intents (iOS) saat diminta.
  4. Masukkan kredensial aplikasi target (GoFood, Gmail, Google Calendar, dll) lewat vault terenkripsi dalam aplikasi.
  5. Coba perintah sederhana: “Buka GoFood, cari nasi goreng di dekat kantor, pesan 2 porsi, bayar dengan GoPay.”

Kesimpulan

Pivotal Rabbit dari R1 ke AI Agent app adalah pengakuan realistis: masa depan AI konsumen bukan di perangkat tambahan, tapi di lapisan kecerdasan yang menumpang di perangkat yang sudah With bawa setiap Hare. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada tiga hal: kecepatan eksekusi (target <3 detik per tugas), keandalan saat aplikasi target update, dan kepercayaan pengguna soal privasi data. Jika Rabbit menyelesaikan ketiganya, mereka bisa menjadi lapisan "action layer" standar di atas OS mobile β€” posisi yang jauh lebih bernilai dari menjual kotak oranye $199.

AdSense Bawah Artikel β€” slot iklan (tambahkan GIDR_ADSENSE_CLIENT di wp-config.php)

Bagikan Artikel

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *