Reviews Corsair Nightsword V2 Wireless SD: Mouse Gaming dengan Tombol Stream Tech Virtual
Desain dan Ergonomi: Berat untuk Jangka Panjang
Corsair Nightsword V2 Wireless SD memiliki bobot resmi 89 gram, namun pengukuran nyata menunjukkan 92 gram. Berat ini terasa signifikan saat digunakan untuk sesi gaming lama, terutama bagi pemain yang terbiasa dengan mouse ringan di bawah 70 gram. Bentuk ergonomisnya memang nyaman untuk pegangan palm grip, namun beratnya menyebabkan kelelahan pergelangan tangan lebih cepat dibandingkan kompetitor modern.
Sisi mouse dilapisi coating rubberized yang terasa licin saat tangan berkeringat. Hal ini mengurangi kontrol saat gerakan cepat, seperti flick shot atau tracking target bergerak. Meskipun tekstur sisi dirancang untuk grip, kenyataannya justru mengganggu ketika intensitas permainan meningkat. Tombol sisi terasa solid dan responsif, namun posisinya agak jauh untuk jari kelingking ukuran kecil.
Fitur Unggulan: Tombol Stream Tech Virtual
Fitur paling menonjol adalah tombol khusus Elgato Stream Tech virtual yang terletak di sisi kiri mouse. Saat ditekan, tombol ini memunculkan overlay Stream Tech virtual di layar, memungkinkan akses ke makro, shortcut, dan aksi streaming tanpa perangkat keras fisik Stream Tech. Integrasi ini sangat powerful bagi streamer dan kreator konten yang butuh akses cepat ke scene switching, audio control, atau makro produktivitas.
Kustomisasi melalui Corsair Web UI atau iCUE desktop app memungkinkan pemetaan tak terbatas. Anda bisa menetapkan shortcut untuk OBS, Discord, browser, hingga makro kompleks untuk editing video. Namun, bergantung pada overlay layar berarti Anda harus mengalihkan fokus visual dari game ke overlay, yang bisa mengganggu alur bermain. Bagi non-streamer, fitur ini terasa seperti gimmick yang menambah biaya tanpa manfaat nyata.
Performa Klik: Hollow dan Berpre-travel
Klik kiri dan kanan mengalami pre-travel dan post-travel yang signifikan. Pre-travel adalah jarak gerakan tombol sebelum switch terpicu, sedangkan post-travel adalah gerakan berlebih setelah aktivas. Kombinasi keduanya menciptakan sensasi klik yang “hollow” dan sluggish, kurang crisp dibandingkan mouse gaming modern yang menggunakan switch optical atau mechanical dengan travel pendek.
Dalam praktiknya, klik terasa menoet dan kurang responsif untuk game FPS kompetitif yang butuh reaction time cepat. Spam click terasa berat dan melelahkan. Sound test menunjukkan nada klik yang dull, bukan tajam dan crisp seperti mouse gaming premium kelasnya. Ini menjadi dealbreaker bagi pemain serius yang memprioritaskan feel klik yang tajam dan konsisten.
Scroll Wheel: Poin Terkuat Hardware
Scroll wheel adalah elemen hardware terbaik pada mouse ini. Teksturnya smooth dengan taktual yang jelas, tidak terlalu ringan maupun terlalu berat. Fitur side-to-side scrolling (tilt wheel) berfungsi mulus untuk navigasi horizontal spreadsheet atau timeline editing video. Click scroll wheel (middle click) terasa solid dan tidak mudah terpicu secara tidak sengaja.
Kualitas scroll wheel ini mengalahkan banyak mouse di kelas harga serupa. Untuk produktivitas seperti browsing panjang, editing timeline, atau navigasi dokumen teknis, scroll wheel ini memberikan pengalaman premium. Sayangnya, keunggulan ini tidak cukup menutupi kelemahan klik utama dan bobot keseluruhan.
Konektivitas Wireless dan Dongle Range
Mouse menggunakan koneksi wireless 2.4 GHz via USB dongle dengan polling rate hingga 8000 Hz (direkomendasikan 1000 Hz untuk stabilitas). Dongle range ternyata sub-par; tanpa extender cable yang disertakan, koneksi sering putus-putus bahkan di jarak dekat. Extender wajib dipasang dan ditempatkan sebisa mungkin dekat mouse untuk performa andal.
Ini mengindikasikan desain antena atau implementasi RF yang kurang optimal. Bagi setup desktop dengan PC di bawah meja atau jauh dari mouse, ini merepotkan. Kabel extender menambah clutter di meja. Performa wireless di polling rate 1000 Hz stabil selama extender terpasang dengan benar, namun 8000 Hz terasa overkill dan justru rentan gangguan.
Battery Life dan Software: Web UI Sebagai Kemajuan
Battery life luar biasa, bertahan lebih dari seminggu penggunaan berat (8-10 jam sehari) dengan polling rate 1000 Hz dan RGB mati. Pengisian daya via USB-C di depan mouse memungkinkan bermain sambil charge tanpa gangguan kabel. Indikator baterai di software akurat dan memberikan peringatan dini.
Corsair mendorong pengguna ke Web UI berbasis browser, mengurangi ketergantungan pada iCUE desktop app yang berat. Web UI memungkinkan konfigurasi DPI, polling rate, tombol, dan lighting dasar tanpa install software tambahan. Ini langkah positif untuk portabilitas dan sistem bersih. Namun, fitur lanjutan seperti makro kompleks dan integrasi Stream Tech virtual masih butuh iCUE lengkap.
Harga dan Nilai: Mahal untuk Kompromi
Dengan harga £119 (sekitar Rp 2.400.000), Nightsword V2 Wireless SD memasuki segmen premium. Di harga ini, kompetitor seperti Logitech G Pro X Superlight 2, Razer DeathAdder V3 Pro, atau Lamzu Atlantis Mini menawarkan bobot di bawah 65 gram, klik optical crisp, dan performa gaming murni tanpa kompromi. Fitur Stream Tech virtual menjadi justification harga, namun hanya berharga bagi niche pengguna Elgato ecosystem.
Jika Anda tidak butuh makro virtual overlay, mouse ini sulit direkomendasikan. Kombinasi berat 92 gram, klik hollow, coating licin, dan dongle range lemah membuatnya kalah saing dari mouse gaming murni di kelas harga sama. Mending beli mouse ringan premium + Stream Tech fisik terpisah untuk fleksibilitas maksimal.