Build a Rocket Boy Resmi Bangkrut: Studio MindsEye Tutup Usaha
Latar Belakang Bangkrut Build a Rocket Boy
Build a Rocket Boy, studio game yang didirikan oleh Leslie Benzies mantan produser utama Grand Theft Auto di Rockstar Games, resmi mengajukan administrasi (bankruptcy protection) di Inggris. Pelaporan ini dikonfirmasi melalui database Companies House yang mencatat status perusahaan sebagai “in administration” minggu lalu. Kejadian ini mengejutkan industri karena baru bulan April 2025 studio masih merilis roadmap update untuk game utamanya, MindsEye.
Kondisi Keuangan yang Mengkhawatirkan
Laporan keuangan terbaru untuk periode sembilan bulan berakhir 30 September 2025 menunjukkan kerugian operasional sebesar £47,5 juta dan kerugian bersih £36,2 juta. Utang kepada kreditor mencapai £61,8 juta, sementara cadangan tunai anjlok drastis dari £51,9 juta akhir 2024 menjadi hanya £19,4 juta per September 2025. Direksi memperingatkan kewajiban preference shares senilai £17 juta yang akan jatuh tempo membutuhkan pendanaan baru yang tidak kunjung terealisasi.
Dampak pada Game MindsEye dan Platform Konten Pengguna
MindsEye, game action-adventure sci-fi yang jadi andalan studio, kini kemungkinan besar tidak akan pernah rilis penuh. Studio juga merencanakan platform “user content” berskala besar yang kini terhenti total. KitGuru mencatat tidak ada tanda-tanda crash mendadak ini pada update roadmap April lalu, membuat kejutan bagi penggemar dan investor.
Profil Leslie Benzies dan Sejarah Studio
Leslie Benzies adalah tokoh kunci di balik kesuksesan serial Grand Theft Auto hingga GTA V dan GTA Online. Ia meninggalkan Rockstar pada 2016 setelah sengketa hukum dengan Take-Two, lalu mendirikan Build a Rocket Boy pada 2016 dengan ambisi menciptakan ekosistem game dan platform konten generasi baru. Studio pernah mengumpulkan dana signifikan dari investor termasuk NetEase, namun tidak mampu mengubah arus kas negatif.
Reaksi Industri dan Analisis Pasca-Bangkrut
Pengamat industri menilai kasus ini menggarisbawahi risiko tinggi pengembangan game AAA independen tanpa backing publisher besar. Biaya produksi yang membengkak, siklus pengembangan panjang, dan tekanan investor untuk hasil cepat menciptakan “valley of death” bagi studio menengah. Beberapa karyawan telah mulai mencari posisi baru, sementara aset IP MindsEye kemungkinan akan dilelang dalam proses administrasi.
Pelajaran bagi Ekosistem Game Development
Kasus Build a Rocket Boy jadi pengingat bahwa nama besar dan dana awal besar tidak menjamin kelangsungan. Manajemen arus kas, milestone realistis, dan diversifikasi pendapatan (bukan bergantung satu judul AAA) krusial. Bagi developer Indonesia, ini menekankan pentingnya publishing partnership, live-ops revenue, dan skala proyek yang sesuai kapasitas tim.
Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
Administrasi berarti pengurus insolvensi akan mengambil alih aset dan mencari pembeli atau melikuidasi. Peluang MindsEye rilis sebagai game utuh sangat tipis, meski tidak mustahil IP dibeli studio lain. Untuk pemain, ini berarti satu harapan game baru dari “bapak GTA” sirna. Industri kehilangan satu studio ambisius yang berpotensi mengubah lanskap open-world dan user-generated content.