Console

Review Sword of the Sea: Petualangan Hoverboarding Melankolis Karya Giant Squid Hadir di Xbox dan Switch 2

📅 30 Oct 2026 ✍️ oguricapp 🕐 5 menit baca
AdSense Atas Artikel — slot iklan (tambahkan GIDR_ADSENSE_CLIENT di wp-config.php)

Perkenalan: Warisan Journey dalam Bentuk Baru

Sword of the Sea hadir sebagai penerus spiritual dari warisan ThatGameCompany, studio yang dikenal dengan karya fenomenal Journey di era PlayStation 3. Giant Squid, yang dibentuk oleh bekas pengembang ThatGameCompany, membawa filosofi desain yang sama: pengalaman gameplay-first yang melankolis, indah, dan mendalam tanpa bergantung pada dialog atau narasi konvensional. Game ini pertama kali diluncurkan eksklusif di PlayStation 5 pada Agustus 2025 sebagai bagian dari PlayStation Plus hari pertama, dan kini resmi hadir di platform Xbox serta Nintendo Switch 2 per 29 Oktober 2025.

Perpindahan platform ini mengikuti kebocoran tidak sengaja dari Microsoft awal minggu ini, yang kemudian dikonfirmasi selama presentasi Indie World Nintendo terbaru. Ketersediaan di Switch 2 berarti pemain kini bisa menikmati petualangan hoverboarding ini di mode handheld maupun docked, memperluas aksesibilitas game yang sebelumnya terjebak dalam eksklusivitas Console Sony.

Gameplay Inti: Mekanika Hoverboarding yang Memuaskan

Inti gameplay Sword of the Sea berpusat pada mekanika hoverboarding yang mulus dan responsif. Pemain mengendalikan karakter yang meluncur di atas permukaan lautan pasir yang luas, melakukan trik, melompat, dan menavigasi lingkungan dengan fisika yang terasa alami dan memuaskan. Kontrol dirancang intuitif: analog kiri untuk arah, analog kanan untuk kamera, dan tombol tertentu untuk lompatan serta trik udara.

Setiap gerakan terasa berat namun lincah, menciptakan sensasi “flow” yang sulit ditemukan di game modern. Puzzle lingkungan terintegrasi secara alami ke dalam traversal — pemain harus memanfaatkan momentum, arus angin, dan struktur kuno untuk mencapai area baru. Tidak ada tutorial bertele-tele; game mempercayai insting pemain untuk mempelajari mekanika melalui eksperimen, mirip pendekatan Journey yang menghormati kecerdasan pemain.

Desain Visual dan Arah Artistik: Keindahan Melankolis

Secara visual, Sword of the Sea menampilkan estetika yang menakjubkan dengan palet warna hangat dan dingin yang berdampingan harmonis. Lautan pasir yang tak berujung, reruntuhan peradaban kuno, dan cahaya matahari yang menembus awan menciptakan pemandangan yang sering kali membuat pemain berhenti sejenak hanya untuk menikmati pemandangan. Desain lingkungan tidak hanya indah, tetapi juga fungsional — setiap elemen visual memberikan petunjuk halus tentang jalur atau rahasia tersembunyi.

Gaya artistik mengingatkan kuat pada Journey dan Abzû (karya sebelumnya Giant Squid), dengan geometri bersih, tekstur minimalis, dan pencahayaan dinamis yang menciptakan suasana yang sekaligus megah dan intim. Di Nintendo Switch 2, game berjalan dengan stabil di resolusi 1080p docked dan 720p handheld, menjaga keindahan visual tanpa kompromi signifikan pada performa.

Performa Teknis di Setiap Platform

Di PlayStation 5, Sword of the Sea menargetkan 60 FPS stabil dengan resolusi 4K dinamis, memanfaatkan SSD cepat untuk loading hampir instan antar area. Versi Xbox Series X|S menawarkan performa setara, dengan Series X mencapai 4K/60FPS dan Series S menargetkan 1440p/60FPS. Kedua versi mendukung Quick Resume, memungkinkan pemain melanjutkan petualangan secara instan.

Port Nintendo Switch 2 mengejutkan dengan optimasi yang solid. Game berjalan pada 30 FPS stabil di mode handheld (720p) dan 60 FPS di mode docked (1080p), dengan penurunan resolusi dinamis saat adegan kompleks. Waktu loading sedikit lebih lama dibanding Console generasi saat ini, namun tetap wajar. Tidak ada bug game-breaking atau crash yang terdeteksi selama pengujian kami di ketiga platform.

Durasi dan Nilai Ulang (Replay Value)

Playthrough utama Sword of the Sea memakan waktu sekitar 4-6 jam tergantung kecepatan eksplorasi pemain. Meskipun relatif pendek, game mendorong multiple playthrough dengan rahasia tersembunyi, collectible berupa artefak kuno, dan challenge time-trial untuk setiap area. Sistem skor berbasis gaya (style points) menambah insentif untuk menguasai mekanika hoverboarding dan menemukan jalur optimal.

New Game+ tidak hadir secara formal, namun struktur dunia semi-terbuka memungkinkan eksplorasi bebas setelah cerita selesai. Pemain yang mengejar completion 100% bisa menghabiskan 10-12 jam total. Bagi game berharga £24.99 (sekitar Rp 500.000), durasi ini menawarkan nilai yang wajar mengingat kualitas produksi dan pengalaman unik yang ditawarkan — bukan game yang dirancang untuk dikonsumsi ratusan jam, melainkan karya seni interaktif yang ringkas dan berdampak.

Desain Suara dan Komposisi Musik

Soundtrack Sword of the Sea dikomposisi oleh Austin Wintory, kolaborator lama ThatGameCompany yang juga menggarap musik Journey dan Abzû. Komposisi orchestra minimalis dengan sentuhan instrumen etnik menciptakan lapisan emosional yang mendalam tanpa pernah mengalahkan gameplay. Musik beradaptasi dinamis: tenang saat eksplorasi, intens saat puzzle kompleks, dan triumfal saat momen puncak.

Desain suara lingkungan (ambience) sangat detail — suara angin berhembus di celah reruntuhan, gemericik pasir di bawah board, dan gema lontar di ruang kosong. Di sistem audio surround atau headphone berkualitas, posisional audio membantu navigasi dan meningkatkan imersi. Tidak ada voice acting, pilihan desain sadar yang memperkuat universalitas pengalaman dan memungkinkan pemain memproyeksikan interpretasi mereka sendiri.

Nilai Jual dan Posisi di Pasar

Dengan harga £24.99 (sekitar Rp 500.000 di eShop Indonesia / Microsoft Store), Sword of the Sea diposisikan sebagai game indie premium — lebih mahal dari game indie rata-rata (Rp 150.000-300.000) namun jauh lebih murah dari title AAA (Rp 700.000-1.000.000+). Harga ini mencerminkan kualitas produksi tinggi, tim pengembang berpengalaman, dan pengalaman yang dipoles tanpa mikrotransaksi, battle pass, atau konten tambahan berbayar.

Bagi pelanggan PlayStation Plus yang sudah mendapatkannya gratis Agustus 2025 lalu, rilis multi-platform ini berarti komunitas pemain berkembang, memungkinkan diskusi lintas platform dan speedrunning kompetitif. Bagi pemilik Switch 2 dan Xbox yang melewatkan rilis awal, ini adalah kesempatan pertama menikmati salah satu game indie paling artistik tahun 2025 tanpa perlu membeli PS5.

Kesimpulan: Karya Seni Interaktif yang Patut Dimainkan

Sword of the Sea bukan game untuk semua orang. Ia menolak konvensi game modern: tidak ada quest marker, tidak ada pohon skill, tidak ada crafting, dan tidak ada grinding. Sebaliknya, ia menawarkan pengalaman murni tentang gerak, eksplorasi, dan kontemplasi — warisan langsung dari filosofi ThatGameCompany. Giant Squid membuktikan mereka tidak hanya meniru formula Journey, tetapi mengembangkannya ke arah baru dengan mekanika hoverboarding yang segar dan identitas visual yang khas.

Jika Anda menghargai game sebagai medium seni, menikmati pengalaman singkat tapi bermakna, dan siap menyerahkan diri pada alur (flow) tanpa tekanan objektif, Sword of the Sea adalah pembelian mudah. Harga Rp 500.000 untuk 4-6 jam pengalaman premium tanpa monetisasi predatif adalah nilai yang adil di era game layanan (live service) yang dominan. Ketersediaan di Switch 2 membuatnya sempurna untuk dimainkan di perjalanan — sesi pendek 30 menit hoverboarding di laut pasir adalah obat penenang pikiran yang langka di dunia gaming modern.

AdSense Bawah Artikel — slot iklan (tambahkan GIDR_ADSENSE_CLIENT di wp-config.php)

"Sword of the Sea adalah pengalaman indie premium yang memukau — pendek, artistik, dan murni menyenangkan. Giant Squid berhasil mengangkasa warisan ThatGameCompany dengan identitas sendiri. Harga Rp 500.000 adil untuk karya ini."

Kelebihan

  • Mekanika hoverboarding mulus dan memuaskan
  • Desain visual dan artistik menakjubkan
  • Soundtrack adaptif karya Austin Wintory
  • Tanpa mikrotransaksi atau monetisasi predatif
  • Performa solid di ketiga platform (PS5, Xbox, Switch 2)
  • Desain puzzle terintegrasi alami dengan traversal
  • Harga wajar untuk kualitas produksi premium

Kekurangan

  • Durasi cerita utama relatif pendek (4-6 jam)
  • Tidak ada New Game+ formal
  • Switch 2 hanya 30 FPS di mode handheld
  • Kurang cocok untuk pemain yang butuh objektif jelas
  • Tidak ada aksesibilitas kontrol yang luas

Spesifikasi

PengembangGiant Squid
PenerbitGiant Squid / Annapurna Interactive
PlatformPS5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, PC
Tanggal Rilis PS5Agustus 2025
Tanggal Rilis Xbox/Switch 229 Oktober 2025
GenrePetualangan, Puzzle, Eksplorasi
Mode PermainanSingle Player
Harga£24.99 / ~Rp 500.000
Mesin GameUnity
Komposer MusikAustin Wintory

Who Should Buy?

  • Penggemar Journey, Abzû, atau game artistik naratif
  • Pemain yang mencari pengalaman relaks tapi menantang
  • Pemilik Switch 2 yang ingin game portable berkualitas tinggi
  • Kolektor game indie premium tanpa mikrotransaksi

Who Should Skip?

  • Pemain yang butuh durasi 20+ jam per playthrough
  • Yang mencari progresi karakter, crafting, atau RPG elements
  • Pemain yang frustrasi tanpa quest marker atau panduan
  • Yang menganggap Rp 500.000 mahal untuk game 5 jam

Frequently Asked Questions

Apakah Sword of the Sea multiplayer?
Tidak, ini game single player murni tanpa mode koop atau kompetitif.
Berapa lama menyelesaikan game ini?
Cerita utama 4-6 jam, completionist 10-12 jam.
Apakah ada perbedaan konten antar platform?
Tidak, semua platform mendapat versi yang sama. Hanya perbedaan performa visual.
Apakah perlu main game Giant Squid sebelumnya?
Tidak, ini cerita mandiri. Pengalaman Abzû atau Journey hanya menambah apresiasi.
Apakah game ini cocok untuk anak-anak?
Ya, rating E/PEGI 3. Tidak ada kekerasan grafis, tapi puzzle butuh kesabaran.

Sumber: https://www.kitguru.net/gaming/mustafa-mahmoud/sword-of-the-sea-comes-to-xbox-and-switch-2-today/

Bagikan Artikel

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *